Cinta tanpa Mantra Cinta
Cinta tanpa Mantra Cinta
Oleh Ikhlas
Aku duduk di ubin malam sejak senja meninggalkan lahan hingga dingin menghias kelam. Kembali mengeja isi hati yang memucuk beku di tiap helainya, kaku di seubun-ubun rindu yang paling komunal dari ujung akarnya. Hingga membias bebal di seluruh rongga yang lihai mendamba cinta tanpa fasih membaca mantra.
Kuseruput kopi dari cangkir harap yang telanjur degap. Namun panasnya tak mampu memuai segala ucap yang terpasung bisu di urat-urat pengecap. Sedangkan remah-remah biskuit kemarin sore tak sudi lagi kulahap, karena angin malam telah memangsa renyah, menjelma omong kosong yang terlampau lembap.
Aku tahu, dirimu semu dan mendambamu hanya berujung sakit. Namun, aku tak mampu bangkit dari desak-desak angan yang menghimpit.
Biarlah, biarlah kekata pikat hanya dalam sekat tanpa suara maupun surat. Meski elegi kebasahan tak pernah berhenti menyayat-nyayat.
Biarlah, aksara rindu hanya dalam alinea pilu. Meski derunya tak pernah berhenti menggebu.
Untukmu yang selalu menggantung di pelupuk pandang rasaku
Adakah kau tahu?
Aku, di sini
Menikmati selaksa sepi
Terhimpit bilangan harap yang mengambang
Dalam palung ketidakberdaayan
Tak pernah mampu tersampaikan
Angsana, 01 Maret 2019
Oleh Ikhlas
Aku duduk di ubin malam sejak senja meninggalkan lahan hingga dingin menghias kelam. Kembali mengeja isi hati yang memucuk beku di tiap helainya, kaku di seubun-ubun rindu yang paling komunal dari ujung akarnya. Hingga membias bebal di seluruh rongga yang lihai mendamba cinta tanpa fasih membaca mantra.
Kuseruput kopi dari cangkir harap yang telanjur degap. Namun panasnya tak mampu memuai segala ucap yang terpasung bisu di urat-urat pengecap. Sedangkan remah-remah biskuit kemarin sore tak sudi lagi kulahap, karena angin malam telah memangsa renyah, menjelma omong kosong yang terlampau lembap.
Aku tahu, dirimu semu dan mendambamu hanya berujung sakit. Namun, aku tak mampu bangkit dari desak-desak angan yang menghimpit.
Biarlah, biarlah kekata pikat hanya dalam sekat tanpa suara maupun surat. Meski elegi kebasahan tak pernah berhenti menyayat-nyayat.
Biarlah, aksara rindu hanya dalam alinea pilu. Meski derunya tak pernah berhenti menggebu.
Untukmu yang selalu menggantung di pelupuk pandang rasaku
Adakah kau tahu?
Aku, di sini
Menikmati selaksa sepi
Terhimpit bilangan harap yang mengambang
Dalam palung ketidakberdaayan
Tak pernah mampu tersampaikan
Angsana, 01 Maret 2019
Comments
Post a Comment