Popular posts from this blog
Pecah di Bilangan Pecahan
Pecah di Bilangan Pecahan Oleh Ikhlas Aku pecah di bilangan pecahan saat menjumlah segala mantra harap yang kau rapalkan dan selaksa rindu yang kau embuskan. Pembilang dan penyebut, amuk menggerogoti beranda pikiran. Hingga soak berkabut, butut terkentut-kentut. Sudah berapa kali kukatakan, aku tak pantas untuk diharapkan. Namun kau tetap saja abai, acuhkan wanti-wanti yang kusemai, di papan ketik dalam layar gawai. Bukannya aku tak cinta, lantas menghindar lalu pergi membiarkanmu terluka. Hanya saja aku ingin tenggelam dalam kesendirian bersama sejuta tanya yang bersemayam dalam keping-keping pikiran. Seberapa pantaskah aku untukmu? Bisakah aku membahagiakanmu? Sial! Memikirkan itu, aku terlanjur lemas, kehabisan nafas. Ah ... dasar kau pecahan ganas, berdarah panas, pembunuh otak paling beringas. Angsana, 24 Januari 2019 Puisi ini pernah diposting di Kompasiana #puisi #julakanum #ikhlas #fiksi
Aku Kembali
Aku, kembali Dari pelayaran mimpi Menyaji sebuah kisah tentang singgah Yang menggeneralisasi perjalanan indah Di sela goncangan ombak yang tak jarang membuat begah, nyaris muntah Tentang camar-camar yang membising di lintasan senja Beku yang mencair di landasan fajar Panas dan hujan yang melucu, mencoba menyurutkan ingin yang terlanjur pasang Malam dengan ikan bakar bumbu air laut yang memenuhi perut Juga kenangan yang terbawa angin lalu pecah menimpa karang Menjelma curahan yang paling hujan di sudut dua bola berpendar Namun Tak cukup waktu untuk mengurai semuanya hari ini Karena, aku kembali Ke tempat meniti hari Saat biji Februari sudah tumbuh menghijau 20 kaki Di mana hiruk pikuknya membatasi jemariku untuk menuntaskan kisah ini Biarkan Biarkan waktu memulai perannya Entah berwujud alinea nyata atau hanya tenggelam dalam aksara lupa Angsana, 20 Februari 2019 #puisi #ikhlas #julakanum
Comments
Post a Comment